kisah nabi hud...
Kisah Nabi Hud A.S.
Pembukaan
Turunlah angin kencang yang amat dahsyat sekali. Semua kaum Ad yang kufur bertempiaran lari menyelamatkan diri. Mereka lari bersembunyi di dalam istana dan rumah mereka yang kukuh itu, namun tiada yang dapat menyelamatkan diri daripada ancaman Allah.
Ribut yang kuat itu berupa tiupan angin yang amat sejuk melanda selama lapan hari tujuh malam. Rumah dan istana yang mereka anggap kukuh itu semuanya runtuh dan musnah bertebaran dibawa angin kencang. Sebaliknya Nabi Hud dan pengikut-pengikutnya terselamat dari ancaman.
Nada suara menurun sedikit sambil tersenyum
Sebahagian kaum Nabi Nuh yang beriman selamat daripada ancaman Allah S.W.T. Mereka mendarat dengan baik setelah berlayar mengharungi samudera akibat banjir besar. Mereka yang kemudian disebut kaum “Add” ,menetap di desa Al-Ahqaf, dan kembali hidup dengan tenteram.
Nabi Hud AS adalah keturunan Sam bin Nuh AS (cucu nabi Nuh) ia di utus kepada kaumnya yang bernama kaum “Add”, kaum yang tinggal di sebelah utara Hadramaut negeri Yaman. Kaum “Add” adalah kaum yang sangat mahir membina bangunan yang cantik, kukuh dan kuat, tetapi sayang, mereka kembali menyembah berhala.
Untuk beberapa zaman sesudah itu, ajaran Tauhid Nabi Nuh dapat diteruskan. Namun, setelah generasi demi generasi berganti, mereka mula melupakannya. Mereka bahkan membuat patung dari nenek moyang yang selamat dari banjir besar, untuk dipuja dan disembah. Penghormatan terhadap nenek moyang seperti itu berkembang terus dari generasi ke generasi.
Sampai akhirnya penghormatan itu berubah menjadi penghambaan dan syirik. Mereka menyembah patung nenek moyang dan mula melupakan Allah S.W.T. Mereka menjadi musyrik dan kafir kembali. Mereka juga menyatakan mereka sebagai kaum yang terkuat sehingga sombong. Kata mereka, “Siapakah yang lebih kuat dari kami?”(Surah Fushshilat: 15).
Di tengah kaum “Add” yang mulai kufur dan musyrik itulah, Allah SWT mengutus Nabi Hud, seperti Nabi-nabi lain juga berseru, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, yang tiada tuhan lain bagi kalian selain Dia.” (Surah Hud: 50). Tapi kaum “Add” bukannya menurut, mereka malah marah, sebab mereka merasa lebih terhormat daripada Nabi Hud.
Dengan sombong mereka menyatakan, “Apakah engkau ingin menjadi pemimpin bagi kami dengan dakwahmu itu? Balasan apa yang engkau inginkan? Mereka menentang, dan memang bersedia memberi apa saja yang diminta asal Nabi Hud menghentikan dakwahnya.
Nabi Hud tidak mengharapkan balasan apa-apa selain mengharapkan kaum “Add” berfikir degan cahaya kebenaran. Nabi Hud hanya ingin mereka bersyukur akan nikmat Allah: sebagaimana Allah menjadikan mereka sebagai khalifah setelah Nabi Nuh; memberi mereka kekuatan fizikal, kenikmatan yang melimpah ruah, dan kemakmuran bumi.
Bukannya sedar, mereka bahkan semakin ingkar. Kata mereka, “bagaimana engkau boleh menyalahkan tuhan-tuhan kami sedangkan kami mendapati nenek moyang kami juga menyembah mereka?” maka jawab Nabi Hud, “Sesungguhnya nenek moyanag kalian telah berbuat salah!” tentu saja kaum “Add” semakin marah. Maka mereka pun mengejek Nabi Hud, “Wahai Hud, apakah engkau akan mengatakan bahawa setelah kami mati dan jadi tanah akan hidup kembali?”
“Kalian akan kembali hidup pada hari kiamat, dan Allah SWT akan bertanya tentang apa yang kalian lakukan selama kalian hidup di bumi!” tetapi mereka tertawa. “Alangkah aneh pandanganmu itu!” seru mereka. “Mana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup kembali!” teriak mereka.
Tidak berhenti sampai disitu, mereka bahkan terus mengejek. “Apa itu hari kiamat?” bagaimana mungkin ada hari dimana manusia yang sudah mati boleh dihidupkan kembali?” kata mereka serentak.
Nabi Hud menjelaskan, kepercayaan akan datangnya hari kiamat sangat penting. Sebab, pada hari kiamatlah kelak keadilan akan di tegakkan. Orang yang berbuat kebajikan akan mendapat pahala dan syurga, sementara yang ingkar akan mendapat seksa yang amat pedih, masuk ke dalam neraka. Meski sudah berkali-kali di ingatkan, kaum“Add” malah berani berkata, “Jauh sekali dari kebenaran apa yang kamu ancamkan kepada kami. Kehidupan ini tak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan hidup dan sekali lagi tak akan di bangkitkan lagi.” (Surah Al-Mukminun: 36-37).
Tentangan terhadap dakwah Nabi Hud semakin keras terutama dari para pembesar kaum Ad, atau mereka yang berstatus bangsawan yang kaya raya yang disebut kaum Ma’la dengan sangat sombong, mereka bilang, “Bagaimana kita mahu mengikuti manusia biasa yang makan dan minum dari piring dan gelas yang terbuat dari emas dan perak? Bukankah aneh kalau Allah memilih manusia biasa menerima wahyu?”
“Apa anehnya? Justeru kerana mengasihi kalian, Allah SWT mengutus aku kepada kalian. Jangan lupa, sesungguhnya kisah Nabi Nuh masih segar dalam ingatan kita. Orang-orang yang mengingkari Allah SWT telah dan pasti hancur, sekuat apapun mereka!” jawab Nabi Hud.
“Siapa yang dapat menghancurkan kami?” teriak mereka. “Allah SWT, jawab Nabi Hud tak kalah lantang.
“Tuhan-tuhan kami akan menyelamatkan kami!”
“Tuhan yang kalian sembah tidak akan mungkin dapat menolong, sebaliknya akan semakin menjauhkan kalian dari Allah SWT.”
“Tuhan yang kalian sembah tidak akan mungkin dapat menolong, sebaliknya akan semakin menjauhkan kalian dari Allah SWT.”
“Kamu sudah gila, wahai Hud! Kami memahami rahsia kegilaanmu. Kamu menghina tuhan kami, dan tuhan kami akan marah kepadamu, kerana itu kamu jadi gila!” teriak pemimpin kaum “Add” itu. “Hai Hud kenapa tidak mendatangkan kepada kami suatu bukti nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan tuhan kami kerana ketidaksetujuanmu.” (Surah Hud: 53).
Kerana tidak seorang pun kaum “Add” yang mahu beriman, Nabi Hud hanya pasrah kepada Allah SWT. Meski begitu baginda tetap sabar dan tidak bersikap emosional. Lalu katanya dengan tegas, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah SWT dan saksikanlah olehmu sekalian bahawa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan selain dari Allah. Sebab itu, jalankanlah semua tipu dayamu terhadapku, dan janganlah kamu memberi kelonggaran kepadaku.” (Surah Hud: 54-55).
Nabi Hud berkata lagi, “Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah SWT, tuhanku dan tuhanmu, tidak satupun binatang melata, melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya tuhanku dijalan yang lurus. Jika kamu berpaling, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu segala apa yang aku di utus oleh Allah. Tuhanku akan mengganti dengan kaum yang lain, (kerana) kamu tidak dapat membuat mudarat sedikitpun kepada-Nya. Sesungguhnya tuhanku Maha Pemelihara segala sesuatu.” (Surah Hud: 56-57).
Segala daya upaya Nabi Hud tidak berhasil. Maka tidak ada jalan lain baginya kecuali pasrah dan menunggu janji Allah SWT berupa seksa dan azab bagi kaum Ad yang ingkar itu. Mula-mula Allah menguji mereka dengan kepanasan yang luar biasa. Begitu terik matahari ketika itu, sehingga batu-batu yang di sentuh pun memercikkan bola api. Di tengah krisis itu, kaum Ad bertanya kepada Nabi Hud, “Mengapa terjadi kepanasan ini, wahai Hud?”
“Sesungguhnya Allah SWT telah murka kepada kalian. Jika kalian beriman, Allah SWT akan menurunkan hujan.”
Namun mereka tidak bertaubat, tetapi terus mengejek dan semakin menganggap bahawa Nabi Hud benar-benar telah gila. Akibatnya, Allah menurunkan bala kepanasan panjang dan dahsyat. Pepohonan yang hijau mulai menguning mengering lalu mati semuanya. Dan tidak lama kemudian, datanglah gumpalan awan dan mega hitam yang tebal di langit. Melihat itu kaum “Add” gembira, mengira hujan akan segera turun.
(Suara dan gaya terkejut) Namun betapa terkejutnya mereka ketika tiba-tiba udara berubah, yang tadinya panas dan kering menjadi sangat dingin menusuk tulang. Angin bertiup sangat kencang, menerbangkan semua benda di atas bumi. Dari hari ke hari, udara dingin semakin dingin. Maka kaum “Add” pun mulai ketakutan, berlarian ke sana kemari mencari perlindungan.
Badai semakin kencang, menghancurkan istana dan rumah-rumah, serta membunuh apa saja, tetumbuhan mahupun haiwan dan merobek pakaian, bahkan mengelupas kulit kaum “Add”. Nabi Hud bersama kaum yang beriman mendapat perlindungan daripada Allah S.W.T. Dan selama dalam mendapat perlindungan daripada Allah, badai dingin terus melanda selama tujuh malam dan lapan hari.
Itulah azab yang Allah timpakan kepada kaum “Add” yang selalu ingkar. Mayatpun bergelimpangan dimana-mana. “Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus. Maka kamu lihat kaum “Add” ketika itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang lapuk.” (Surah Al-Haqqah: 7).
Tidak satu benda atau binatang pun yang tertinggal, tidak seorang pun yang hidup. Semua binasa bak pohon kurma yang lapuk. Sementara Nabi Hud dan kaum yang beriman di selamatkan oleh Allah SWT.
(Nada suara yang lembut tetapi tegas)
Pengajaran dari kisah Nabi Hud A.S, baginda telah memberi contoh yang baik yang patut dicontohi oleh semua orang. Baginda menghadapi kaumnya yang sombong dan keras kepala dengan penuh kesabaran, ketabahan serta berlapang dada. Baginda tidak sesekali membalas ejekan dan kata-kata kasar kaumnya tetapi menolaknya dengan kata-kata yang halus yang menunjukkan baginda dapat mengawal emosinya dan tidak kehilangan akal serta kesabaran. Baginda hanya berkata: “Aku tidak gila dan tuhan-tuhanmu tidak dapat menggangguku atau mengganggu fikiranku sedikit pun, tetapi aku ini adalah Rasul pesuruh Allah kepadamu dan aku betul-betul seorang penasihat yang jujur bagimu mengkehendaki kebaikanmu dan kesejahteraan hidupmu agar terhindar serta selamat dari azab siksaan Allah di dunia mahu pun akhirat.”
Comments